Dari bentuk-bentuk sekar gending yang telah disebutkan di atas, masing-masing mempunyai pengembangannya tersendiri, sehingga melahirkan istilah baru yang merupakan puncak daripada paduan sekar dang ending, yaitu Gending Karesmeni dan Sekar gending Wanda Anyar.

2.1. Gending Karesmen

Gending Karesmen menurut pendapat umum adalah paduan sekar dan gending yang dijalin pada salah satu cerita secara nonstop, yang wujudnya sebagai materi sendiri dalam pergelarannya.

RMA Kusumadinata menentang keras pendapat ini karena arti Gending Karesmen yang sebenarnya adalah Karesmian Gending yang artinya gending yang dikomposisikan k untuk dibawakan secara instrumentalia di mana unsur sekar tidak termasuk di dalamnya.

Seterusnya RMA Kusumadinata menyebutkan bahwa pendapatnya mengenai hal ini lebih tegas menyebut “Rinengga Sari atau Rinenggswara”. Hal ini pernah menjadi polemic dalam suatu surat kabar dengan MA Salmun, karena menurut MA Salmun istilah Gending Karesmen tetap saja harus dipertahankan sebab istilah ini telah kuat membaku dalam kehidupan seni pada masyarakat di Pasundan.

Mang Koko cenderung menyebut Drama Suara untuk istilah Gending Karesmen. Alasannya ialah selain kata drama suara itu lebih mudah dicerna dan diartikan, juga sejajar dengan istilah dalam tari yang dipergunakan yaitu Sendra Tari untuk bentuk seperti itu. Nano. S mencoba pula memberikan istilah untuk jenis pergelaran semacam ini yaitu Kagunan Reka Carita. Kagunan merupakan kebangkitan seni suara, baik sekar maupun gending. Reka dimaksudkan suatu formula ungkapan dalam mewujudkan ciptaan, carita atau cerita ialah suatu ungkapan yang disusun oleh materi bahasa.

2.2. Sekar Gending Wanda Anyar

Baik dalam bahasan sekar juga pada bahasan gending, sebenarnya secara tidak langsung perihal sekar gending wanda anyar ini banyak yang telah dibahas, tetapi ada beberapa bagian yang sangat perlu mendapat penekanan dalam hal sekar gending wanda anyar ini, yaitu:

(a.) Perpaduan Komposisi antara Sekar dan Gending

Dalam sekar gending wanda anyar, sekar dan gending sudah merupakan satu komposisi yang utuh. Baik sekar maupun iringan harus sesuai dengan hal-hal yang telah ditetapkan oleh komponisnya. Gending dan sekar diproses sama, kemudian menjadi utuh dalam satu jalinan komposisi. Perlu diketahui bahwa yang pertama-tama memberi warna pada olahan sekar gending wanda anyar selalu diawali dengan gendingnya.

(b.) Pangkat dan Pungkasan

Dalam sekar gending wanda Anyar, pangkat seperti dalam bentuk tradisi hampir tidak dipakai dalam penampilannya. Komposisi gending langsung mengawali dengan orientasi pada tema/judul yang akan diungkapkan. Biasanya komposisi gending itu berorientasi pada melodi lagu sekar/vokal atau mengambil jalur lain yang tetap berpijak pada sasran tema/judul yang menjadi sumbernya. Komposisinya tidak menghususkan permulaan lagu sekar saja, tetapi sering pula diolah di tengah, diantara bagian dari lagu/sekar sehingga saling mengisi jiwa dari endapan komposisinya. Terkadang terjasi pula dialog antara sekar dang ending yang saling mengisi atau bersama dengan melodi yang sama antara sekar dan gending.

Pada bagian akhir lagu (pungkasan), tidak selamanya bertahap pada tempo yang makin lambat untuk akhirnya tamat pada jatuhnya gong akhir, tetapi sering pula dibuatkan gending akhir sebagai penutup dari komposisinya.

(c.) Modulasi dan Transposisi

Baik modulasi maupun transposisi laras dalam sekar/vokal Sunda bukan merupakan hal yang baru dalam kehidupan karawitan Sunda (mugkin daerah yang lain pun demikian). Bahkan para pesinden trsadisional seolah “sudah menjadi permainan” yang spontan dilakukan dalam pagelarannya. Sebagai contoh bagaimana bagaimana lincahnya pesinden dalam membawakan lagu dalam berbagai laras untuk posisi tabuh yang sama, dengan iringan yang tetap. Tetapi dalam sekar geding wanda anyar, laras vokal betul-betul menjadi perhatian seksama untuk pengolahan gendingnya. Sebuah lagu berlaras madenda, sedangkan iringan dalam laras salendro, maka dalam hal ini dibutuhkan suatu kejelian, kecermatan dalam mengolah gendingnya, apabila kita tidak menggunakan gamelan berlaras madenda. Di satu pihak memang ada beberapa nada yang tumbuk, tetapi di pihak lain ada beberapa nada yang tidak tumbuk yang justru menjadi cirri-ciri khas dari laras sekar yang dibawakan. Di sinilah Sekar Gending Wanda Anyar mempunyai keistimewaan tersendiri, komposisi tabuh laras salendro, sedangkan sekar berlaras lain (madenda, degung). Fungsi rebab dalam menjalin lagu dan komposisinya sangat besar pengaruhnya. Terjadilag seakan-akan dialog laras dalam aransemen dan iringan.

Catatan:

Modulasi = perpindahan laras/surupan pada sebagian Lagu

Transposisi = perpindahan laras/ surupan secara keseluruhan.

(d.) Pindah Perangkat

Seandainya perpindahan gamelan itu terjadi antara salendro dan pelog, biasa disebut pindah perangkat. Pindah perangkat untuk Sekar Gending Wanda Anyar, baik dari pelog ke salendro atau sebaliknya, diolah dengan system tumbuk.

Jenis-jenis “tumbuk” pada gamelan, adalah:

(1) Tumbuk Barang, yaitu dua perangkat gamelan Salendro dan Pelog mumpanyai murdaswara Tugu/Barang yang sama.

(2) Tumbuk Lima, yaitu dua perangkat gamelan Salendro dan Pelog yang mempunyai murdaswara Loloran/Kenong yang sama.

(3) Tumbuk Dada, yaitu dua perangkat gamelan Salendro dan Pelog yang mempunyai murdaswara Panelu yang sama.

(4) Tumbuk Gulu, yaitu dua perangkat gamelan Salendro dan Pelog yang mempunyai murdaswara Galimer yang sama.

(5) Kanyut Mesem, yaitu murdaswara Loloran pada gamelan Pelog sama dengan murdaswara Tugu pada gamelan Salendro, atau Singgul Salendro sama dengan Sorog pada Pelog.

Perpindahan perangkat bisa terjadi pula antara gamelan salendro dengan gamelan degung, dengan mengingat nada yang tumbuknya. Olahan kreasi wanda anyar dalam Sekar Gending Sunda banyak yang menggunakan perpindahan perangkat ini.

(e.) Sekar Gending pada Kacapi

Kiranya perlu mendapat perhatian seksama bahwa alat kacapi banyak mewarnai keberangkatan awal-awal pada perkembangan sekar gending wanda anyar pada gamelan. Beberapa prosesnya benyak yang sama bahwa arransemen tabuh selalu mewarnai awal-awal sebelum masuk lagu, kemudian iringan secara tradisi mengiringi lagunya. Banyak di antara sekar-sekar gending yang diterapkan pada gamelan beranjak dari sekar gending kacapi. Penerapan pada gamelan mendapat pengolahan kembali, terutama pada pembagian tugas waditra. Karena aransemen kacapi banyak mempergunakan nada-nada tinggi sampai yang rendah secara langsung tugas-tugas itu diterapkan pada waditra rincik dan boning. Penerapan sekar gending kacapi pada gamelan terutama yang berlaras pelog, sedangkan yang berlaras salendro sangat jarang sekali.

Apabila diteliti dengan seksama, melihat contoh-contoh pada sekar gending wanda anyar, maka terdapat perbedaan-perbedaan dengan sekar gending tradisional, baik sekarnya maupun gendingnya. Khusus gending wanda anyar tampak perbedaan yang sangat jelas apabila dibandingkan dengan bentuk tradisi, perbedaan tampak dalam hal sanggian dan aturan tabuh yang keluar dari aturan tabuh tradisional gending wanda anyar sangat berkembang dalam gamelan pelog-salendro. Bahkan sekarang gamelan degung pun banyak mengolah gending-gending wanda anyar. Dengan kata lain, arti wanda anyar sama dengan kreasi baru, penekanan kata “wanda” dimaksudkan untuk lebih memberi identitas perbedaan dan kemandirian dari olahan kreasinya.

Cirri-ciri gending wanda anyar:

(a.) Diketahui Nama Penciptanya (Komponis)

Gending wanda anyar merupakan gending yang secara khusus disanggi oleh komponisnya yang bertalian erat dengan suatu tema atau judul dalam mengungkapkannya. Kekhususan lahir dari ide penciptanya, maka jiwa yang terkandung dari gendingnya akan mewarnai juga tema atau judul yang diungkapkan. Akan sangat terasa apabila kita bandingkan dengan bentuk lagu “rerenggongan” pada gamelan tradisi, yang dalam beberapa hal dipakai dlam segala suasana dan berbagai jiwa. Penekanan kata sanggian pada karya seorang komponis dimaksudkan memberikan perbedaan dengan bentuk tradisi yang kebanyakan komponisnya anonym (nn).

(b.) Fungsi Waditra Ditentukan Komposisi

Pada gamelan tradisi, waditra telah tertentu fungsinya dan tidak berubah-ubah. Dalam wanda anyar, waditra ditentukan fungsinya oleh kebutuhan komposisi yang disusun oleh komponisnya. Waditra-waditra itu tidak selalu bersama, tetapi dalam beberapa bagian secara tersendiri waditra tertentu dipercayakan untuk mengungkapkan bagian-bagian dari komposisi lagunya.

Apabila dalam gamelan tradisi tabuh saron dicaruk, bonang dikemprang, maka dalam gending wanda anyar ketentuan seperti ini dapat diabaikan. Bahkan sebaliknya, ada waditra-waditra yang tadinya tidak ditonjolkan pada gamelan tradisi, maka pada gamelan wanda anyar sangat dominant, misalnya rincik dan peking. Melodi lagu banyak dibawakan oleh alat berwilah atau penclon daripada dibawakan oleh rebab.

(c.) Adanya pendayagunaan waditra

Jumlah waditra pada gamelan tradisi telah tertentu jumlahnya dan kadangkala dari jumlah yang sudah ada itu timbul pengurangan-pengurangan sehingga jumlahnya menjadi sedikit. Dalam gamelan wanda anyar mulai beranjak pada penambahan alat-alat lain yang sebelumnya tidak digunakan pada perangkat gamelan, seperti waditra kacapi, calung, angklung, alat-alat tiup lainnya (suling, tarompet, karinding, dsbnya) bersatu pada gamelan dalam satu jalinan komposisi. Penambahan sangat terasa memberi warna suara lain; gamelan yang didominisasi oleh waditra pukul pada akhirnya membutuhkan pula bunyi yang mempunyai jangkauan nada yang luas serta bunyi yang menyambung (tidak patah-patah). Berdasarkan kebutuhan inilah, maka penambahan waditra terus berkembang pada gending wanda anyar.

Demikianlah beberapa cirri gending wanda anyar yang sangat penting dalam perbedaannya dengan gamelan tradisi. Untuk lebih jelasnya, berikut ini ada contoh dari penulisan gending wanda anyar:

Sebagai tambahan perlu kiranya diketahui bahwa tidak semua gending wanda anyar untuk mengiringi lagu saja, tetapi banyak pula lagu-lagu tradisi yang diolah ke dalam bentuk wanda anyar. Sekar masih tetap sebagaimana mestinya, tetapi gending diolah dalam kreasi baru (wanda anyar). Lagu-lagu rakyat, lagu ketuk tilu, dan lain-lain telah banyak diangkat dalam oleh kreasi wanda anyar.

Perkembangan wanda anyar pada mulanya mendapat tantangan dari seniman-seniman yang kuat berpijak pada pola tradisi. Mereka mengatakan merusak pola-pola tradisi, bahkan ada yang menyebut bahwa gamelan wanda anyar ini “gamelan beatle”, di pihak lain para pemuda banyak yang tertarik pada bentuk ini sehingga akhirnya wanda anyar dimanfaatkan sebagai jembatan untuk para pemuda dalam mencintai karawitannya dan lambat laun mereka diarahkan pada bentuk tradisi. Selanjutnya gending wanda anyar yang tadinya banyak bersentuhan langsung dengan karawitan sekar, kini telah bersentuhan pula dan merembes pada olahan kreasi gending untuk tari. Akhirnya waditra kendang yang sangat dominant pada iringan tari telah banyak berkurang diganti oleh waditra lain dengan melodi lagu yang sesuai dalam mendukung gerak tari; hal semacam ini banyak terjadi pada olahan tari kreasi baru, baik tari lepas maupun sendratari.

Secara bertahap gending wanda anyar digunakan pula pada iringan pagelaran wayang golek. Gending tatalu yang biasanya dibawakan para nayaga menggunakan lagu-lagu tradisi sering diselingi dengan tabuhan wanda anyar. Para nayaga tradisi mengatakan bahwa gending wanda anyar adalah menabuh dengan teknik.