Yang dimaksudkan dengan tata penyajian di sini adalah segala sesuatu yang ada hubungannya dengan materi sekar gending pada suatu jenis pagelaran, baik mengenai perlengkapan instrumennya, gending-gending yang digunakan, fungsi waditra dan lain-lain.

Jenis kesenian yang hidup dan sering dipergelarkan di Jawa Barat sangat banyak jumlahnya. Oleh karena itu, pada pembahasan selanjutnya akan dibatasi pada penyajian sekar gending untuk Padalangan, Tari, Bajidoran/Jaipongan, Tembang Sunda/Cianjuran, Gending Karesmen.

3.1. Tata Penyajian Sekar Gending pada Padalangan

(a). Instrument yang digunakan

Seni Padalangan menggunakan iringan gamelan lengkap, tetapi di Pasundan kadangkala tidak semua waditra dipakai disesuaikan dengan situasi dan kondisi setempat kadangkala hanya memakai dua bauh saron, panerus/demung, bonang, gambang, kendang, rebab dan gong. Penempatan gamelan diatur sedemikian rupa, diusahakan waditra rebab sebagai pembawa lagu dapat terdengar jelas oleh semua penabuh. Untuk waditra yang bersuara keras ditempatkan di belakang supaya tidak menganggu atau menutupi suara waditra lain

(b). Fungsi Karawitan dalam mengiringi pergelaran, berfungsi:

þ Pengiring gerak wayang (sabet wayang ketika wayang menari maupun berkelahi)

þ Pengiring juru kawih (sekar/vokal)

þ Pengiring kakawen dan “haleuang” dalang

þ Penggambaran dramatisasi pemeran lakon (sedih, gembira, bingung, dan lain-lain)

þ Pengiring adegan-adegan dalam garapan seni padalangan

Untuk mewujudkan suatu penyajian yang berhasil, maka fungsi pokok karawitan sebagai pengiring seni padalangan ini ialah adanya suatu kesatuan yang harmonis dalam menjalin sebuah lagu sesuai dengan yang dikehendaki oleh ki dalang. Keserasian dalam menabuh gamelan ini merupakan suatu syarat mutlak dalam sajian seni padalangan.

Karena karawitan di dalam padalangan adalah gending-gending untuk mengiringi gerak-gerak wayang dan vokal, baik yang dinyanyikan ki dalang maupun juru kawih, lagu-lagu yang dibawakannya ditujukan kepada penjiwaan dan watak wayang serta watak lagu itu sendiri, yang dalam menentukan lagu-lagu itu atas permintaan ki dalang.

(c). Gending-gending untuk mengiringi Seni Padalangan

þ Tatalu

Gending untuk tatalu ditabuh sebelum pertunjukan wayang dimulai, dengan maksud mengumpulan penonton dan pemberitahuan kepada mereka yang bersnangkutan (penerima tamu, yang punya hajat, dalang, juru kawih). Lagu-lagu yang dihidangkan dalam tatalu antara : Gending Jipang Karaton, Jipang Ageng, Jipang Renggong, jipang Wayang. Pada umumnya gending-gending inilah yang disajikan.

þ Gending Panyambat

Panyambat artinya memanggil dalang. Jadi, gending panyambat adalah sebuah gending yang mengisyaratkan agar sinden, dalang naik ke pentas untuk segera memulai pagelaran wayangnya. Gending-gending yang dihidangkan dalam gending panyambat ini adalah Gending Banjar Mati. Dewasa ini nama lagu itu berubah menjadi Banjar Mlati.

þ Gending Puja Mantra

Seperti garapan padalangan pada umumnya, sebelum memulai menggarap ceritera wayang, dalang kelihatan mengucapkan mantra-mantra/doa yang diyakini olehnya. Pembacaan mantra/doa diiringi salah satu gending, diantaranya gending-gending seperti Gending Papalayon Ageng dilanjutkan ke Karatagan Pedot atau dapat dipilih seperti Gending Karatagan Losari, Karatagan Ageng, Karatagan Wayang.

þ Gending Pengiring Pagelaran

Pagelaran semalam suntuk menggunakan gending-gending seperti : Gending Kawitan, Gending Karawitan, Gending Pawitan, Gendring Bendra, Gending Sungsang. Gending Karawitan, Gending Pawitan dan Gending Bendra adalah gending-gending yang jarang dipakai sebagai iringan pergelaran wayang. Kelima gending yang disebutkan disesuaikan dengan kebiasaan dan kemampuan ki Dalang dalam memahami gending-gending tersebut. Gending-gending dalam seni Padalangan di Jawa barat, setelah Kayon/Gunungan dicabut dari pakeliran.

þ Gending Jejer Karaton

Setelah dalang mencabut kayon, dilanjutkan dengan menarikan wayang yang harus berperan dalam jejer karatonan. Biasanya penampilan tokoh wayang pada jejeran ini diiringi dengan gending Sungsang dan ketika menyanyikan kakawen permulaan (murwa) dapat diingi oleh salah satu gending seperti : gending Golewang, Gending Kulu-Kulu Bem, Gending Kawitan, gending Karawitan, gending Pawitan, gendering Bendra atau dengan Gending Sungsang.

Bahkan ada pula yang tidak menggunakan salah satu gending yang disebutkan di atas. Hal ini tergantung kepada kemampuan ki dalang dalam penguasaan lagu-lagu tersebut.

þ Gending Badaya Karaton

Sebelum dimulai dengan “Pocapan”, dalam seni garapan padalangan didahului dengan menarikan “Badaya” untuk wayang perempuan dan “Maktal” untuk wayang laki-laki. Tarian ini tidak menjadi keharusan, walaupun pada umumnya garapan padalangan di Jawa Barat selalu digunakan, tarian ini untuk menghormati para tamu yang menghadap raja.

þ Gending di Paseban

Gending yang dipakai untuk jejeran Pasebanan ini pada umumnya adalah : Papalayon Solo atau Karatagan Wayang, demikian pula pada waktu wayang-wayang itu meninggalkan paseban. Gending para tokoh wayang yang akan menghadap masuk paseban antara lain:

ü Untuk raja gagah: gending Macan Ucul, Ombak Banyu, bendrong, Waledan dan gending-gending lainnya yang sejiwa.

ü Untuk raja lungguh atau satria: gending Renggong Gancang, kulu-Kulu Gancang atau gending yang iramanya sedang. Selesai paseban, gending beralih menjadi gending yang lain seperti lagu gehger sore, atau lagu-lagu jalan lainnya.

ü Tokoh Rahwan dan sejenisnya mempergunakan gending khusus tapi tetap berpola pada patokan tabuh gending tradisi yang ada, sedangkan para ponggawa lainnya antara lain: Gending Gunung Sari, Palima, Panglima, Solontongan, Leang-leang. Tokoh Kresna biasa menggunakan gending Sinyur atau Sanga Gancang. Pilihan-pilihan gending didasarkan kepada watak dan sifat tokoh wayang sebab akan dirasakan adanya kejanggalan apabila gending untuk satria lungguh digunakan pada wayang untuk ponggawa.

þ Gending-gending lainnya

Untuk mengiringi perkelahian/peperangan, pada umumnya menggunakan gending Sampak Wayang atau gending Sampak Patra juga gending Ayak-Ayakan. Untuk gending panakawan gending Kicir_Kicir, Jangkrik atau Eling-eling dengan maksud untuk mengalihkan adegan kepada adegan berikutnya. Gending gending seperti Paksi Tuwung, Gorompol digunakan untuk para satria, apabila dalam keadaan sedih dapat menggunakan Gending Udan Mas, Sedih Prihatin, Tablo,Idan lagu sejenisnya. Dalam perang Barubuh atau Perang akhir dapat digunakan gending Rampak Sinyur.

Urutan gending-gending di atas dapat diubah, asal dengan jiwa dan watak gending yang sama, bahkan penempatan gending-gendingnya pun dapat dialihkan pula.

Demikianlah tata penyajian sekar gending pada pergelaran wayang golek, gending-gendingnya harus dipelajari secara khusus karena memerlukan penguasaan perbendaharaan gending-gendiang agar kebutuhan karawitan bagi iringan pertunjukan wayang dapat dipenuhi.

Dari uraian-uraian di atas dapatlah ditarik kesimpulan untuk cirri-ciri karawitan pengiring pergelaran wayang sebagai berikut:

(1). Peralihan embat berdasarkan ketentuan dalam tata gending.

(2). Pergantian gending berdasarkan norma-norma gending yang telah ditetapkan dalam komposisinya.

(3). Keras lemahnya gending diatur menurut kebutuhannya.

(4). Cempala dan Kecrek merupakan sarana yang utama bagi seorang dalang selaku sutradara dalam pergelaran wayang.

(5). Ketika wayang menari, maka kendang merupakan pengiring gerak. Keras lemahnya berdasarkan kepada gerak wayang itu sendiri.

(6). Peranan waditra Rebab sangat menonjol pada waktu gending mengiringi Sekar/Vokal

(7). Gambang dan rebab berperanan pada waktu gending iringan Kakawen, Haleuang Dalang dan sebagainya, juga berfungsi sebagai ilustrasi.

3.2. Tata Penyajian Sekar Gending pada Tari Sunda

Pada prinsipnya karawitan sekar gending untuk tari adalah hampir sama dengan sekar gending untuk padalangan. Lagunya masih tetap yang itu-itu juga, hanya berbeda fungsi kegunaannya saja.

Secara singkat karawitan tari adalah lagu (sekar dang ending) untuk mengiringi gerak-gerak tari berdasarkan keperluan dan fungsi yang tersendiri.

(a) Ciri-ciri Karawitan Tari Sunda

Yang dijadikan landasan untuk memberikan cirri-ciri karawitan sekar gending untuk iringan tari adalah bentuk karawitan tari “tradisi” terutama yang banyak berhubungan dengan gamelan. Adapun ciri-ciri itu antara lain:

F Perubahan tempo

Berubahnya tempo bisa secara mendadak berdasarkan kebutuhan tarian. Misalnya dari gerak “Jangkung Ilo” terus bergerak ke “gedut”, rata-rata gerakannya “diembat” menjadi sedikit lambat. Begitu pula perubahan karakter tari itu sendiri akan menyebabkan pula perubahan ini, misalnya pada tari Kursus, dari karakter lanyap naik ke karakter gagah. Dinamika gending dalam iringan tari harus tampak perubahan keras-lunaknya tabuhan, berdasarkan gerak si penari.

F Dominannya Fungsi Kendang

Dalam iringan tari, fungsi kendang terasa sekali menonjolnya sehingga lagu kadangkala menjadi nomor dua. Oleh karena lagu yang digunakan berfungsi hanya memberi ritme wiletan sehingga suatu tarian bisa diiringi dengan gending lain asalkan masih dalam watak yang sama. Timbulnya panatisme bagi si penari terhadap penabuh kendang mengakibatkan adanya kekuatan yang khusus bagi si penari sehingga si penari sehingga apabila si penari diiiringi dengan penabuh kendang yang tidak seperguruan akan terasa perbedaan pada dirinya meskipun tariannya sama. Karena menonjolnya fungsi kendang ini, maka yang dianggap tokoh nayaga pada tari adalah tukang kendang ini.

F Digunakannya Waditra Kecrek

Meskipun alat ini tidak bernada (atonal), fungsinya pada tari terasa memberi warna lain. Beberapa tuagas kecrek dalam gending iringan tari:

(1) Memberi aksen-aksen gerak sesuai pula dengan tabuh/tepak kendang.

(2) Aba-aba apabila akan pindah gerak (misalnya gerak cindek, koma)

(3) Aba-aba dalam peralihan lagu

(4) Aba-aba hiasan dalam lagam gending

(5) Secara tidak langsung merupakan merupakan arkuh tabuh/tepak kendang (dalam kegiatan latihan yang tidak menggunakan iringan, maka kecrek menggantikan fungsi kendang)

Pada perkembangan sekar gending tari sekarang ini, kecrek jarang sekali digunakan. Apabila ada hanyalah sebagai alat tambahan saja. Jadi, tugasnya tidak seperti apa yang sudah diuraikan.

F Lagam Gending Tidak tetap

Lagam gending dalam tari sangat terasa sekali apabila kita bandingkan dengan lagam gending dalam sekar/vokal. Contohnya: Lagu Sulanjana untuk mengiringi tari dan lagu Sulanjana untuk mengiringi sekar. Secara arkuh lagu tidak ada perbedaannya, tetapi dalam lagam gendingnya terasa sekali perbedaannya, yaitu lagam gending pada sekar dinamikanya datar, sedangkan lagam gending pada tari tidak tetap sehingga timbullah dinamika sesuai dengan kebutuhan gerak tari.

F Mempunyai Gending Pembukaan

Yang dimaksudkan dengan gending pembukaan disini ialah gending penghantar sebelum tarian pokok dipergelarkan. Tempo yang digunakan biasanya kering. Gending pembukaan sebenarnya secara tidak langsung bisa memberi gambaran tentang karakter tari yang akan dibawakan, tetapi ada pula yang sifatnya sebagai “tata karma” saja yang tidak ada hubungannya dengan tari yang akan dibawakan. Beberapa contoh tari yang biasa menggunakan gending pembukaan yaitu : Tari Anjasmara, tari Topeng, Tari lenyepan dan sebagainya.

F Bersatunya Senggak dengan Gerak Tari

Senggak adalah suara-suara vokal nayaga/penabuh gamelan yang digunakan untuk memberi suasana pada gerakan tari. Sifatnya dinamis dan spontanitas. Gerak tari yang sudah bersatu dan harmonis dengan senggak adalah gerak Keupat, Mincid, Pakblang, Gedut, laras konda, Bokor Sinongo dan lain-lain

Dalam bentuknya senggak menggunakan cara:

(1) Bersahut-sahutan, baik satu suku kata maupun satu bait lagu

(2) Bersama-sama

(3) Polyphonis

Kata-kata yang biasa digunakan antara lain : Eu..eu.. Ay ..Ay, Hewahehwahey, tumpak paser, dsbnya.

(b) Korelasi Elemen Karawitan dalam Tari Sunda

Yang dimaksudkan dengan korelasi di sini adalah beberapa bahan lain yang memberi warna pada karawitan tari (sekar dan gending tari), yaitu:

(1) Laras yang digunakan memberi pengaruh pada iringan tari. Sering terjadi karena kurangnya perhatian terhadap jiwa lagu dengan adanya laras, jiwa tarian tidak serasi dengan iringan yang digunakan. Misalnya, tari Sulintang akan serasi jiwanya apabila diiringi dengan gending Bendrong laras pelog daripada diingi Bendrong laras salendro.

(2) Surupan yang digunakan mempunyai pengaruh terhadap suasana; hal ini sangat terasa sekali pada gamelan pelog dan laras madenda. Surupan memberi kekuatan pada: gerak-gerak peralihan, pergantian adegan, gerak dialog. Penggunaan surupan secara khusus (disanggi) terasa dalam sendratari “Ramayana 1971”, pada festival Sendratari Internasional di Pandaan Jawa Timut.

(3) Patet disesuaikan dengan karakter tarian. Untuk gagahan biasa digunakan patet Barang (Nem). Wanda Satria lanyap patet Manyuro, sifat agung-luhung dipakai patet Sanga.

(4) Sekar pada tari berdasarkan pagelarannya dapat bersifat mutlak dan pelengkap. Bersifat mutlak apabila sekar sengaja ditempatkan dan rumpakanya dibuat untuk memberi dukungan lain, misalnya untuk suasana tarian (adegan marah, sedih, meninggal, hidup kembali, dsbnya). Sekar ini biasanya dapat ditemukan pada pergelaran tari yang bercerita, baik berupa fragmen maupun utuh/sendratari. Sekar yang sifatnya pelengkap dapat ditemukan pada tari kursus. Rumpaka yang digunakan tidak usah sama dengan jiwa tarian, biasanya cukup memakai sisindiran (berbeda dengan ketuk tilu, di mana sekar sangat lekat dengan penari, selain menunjang gerak dan lagu, juga dipakai alat untuk memikat yang akan turut menari)

(5) Gerakan lagu/tempo lagu, banyak membantu karakter/wanda tari yang dibawakan. Gerakan sawilet sedang, banyak digunakan untuk gambaran terhadap kegagalan keterampilan. Gerakan kering biasa digunakan untuk sifat marah atau adegan perang. Gerakan lalamba rata-rata digunakan untuk sifat-sifat yang agung, lenyep.

(c) Gending Wanda Anyar pada Iringan Tari Sunda

Sebenarnya benih-benih Wanda Anyar pada karawitan tari Sunda lebih memungkinkan untuk berkembang lebih jauh. Salah satu sebab yang utama ialah adanya perubahan dinamika, baik tempo maupun keras lunaknya, terasa lebih menonjol dibandingkan untuk iringan sekar.

Pada bentuk tradisional dikenal tabuh-tabuh raehan, seperti Punten Nun, Cocol Pindang, Ciaseman, Nona Nangis Minta Pulang dan lain-lain, di mna semuanya telah keluar dari aturan-aturan tabuh yang membaku. Adapun kurangnya perkembangan tabuh-tabuh Wanda Anyar pada tari Sunda, antara lain disebabkan oleh beberapa hal, yaitu: dominannya kendang, kurangnya kreativitas seniman-seniman karawitan tari, lingkup kehidupan penari dan para nayaga, kurangnya perhatian koreografer terhadap pengolahan gending-gending tari.

Usaha-usaha untuk keluar dari ikatan-ikatan tradisi pada karawitan tari, sebenarnya serasa lebih dahulu, kalau dibandingkan dengan bentuk-bentuk sekar gending seperti sekarang. Hanya perkembangannya sangat lamban sekali sehingga seolah-olah perkembangan Wanda Anyar dalam karawitan tari, merupakan hal-hal yang baru.

Tidak dapat disanggah lagi dan telah menjadi kenyataan bahwa pengaruh karawitan wanda anyar Mang Koko ada pengaruhnya terhadap karawitan tari, meskipun sebenarnya pada mulanya gending-gending itu digunakan untuk kebutuhan sekar. Cuplikan-cuplikan dari tabuh wanda anyar banyak digunakan pada pergelaran tari pada saat ini. Suatu hal yang perlu dicatat bahwa karya bersama antara Mang Koko dan Enoch Atmadibrata, yaitu dalam Tari Hujan Munggaran. Gending secara “utuh” dibuat sehingga menjadi harmonis dengan tarian. Penciptaan tari seperti pada tari Hujan Munggaran memerlukan kecermatan dan suatu pendalaman terhadap karawitan gending wanda anyar.

(d) Gending Wanda Anyar pada Sendratari Sunda

Karya sendratari Ramayana versi Sunda 1971 di Pandaan Jawa Timur, sampai saat ini merupakan karya bersama tokoh-tokoh tari Sunda yang paling menonjol. Dalam sendratari Ramayana ini sebagian besar tokoh-tokoh tari ikut mendukung, baik sebagai pemain langsung maupun sebagai piñata tari. Dasar-dasar gerak tari yang diambil adalah gaya Cirebon, di mana penonjolan “kedok/topeng” ditampilkan untuk tiap-tiap peran.

Penanganan dalam dukungan karawitan, secara luwes mempergunakan bentuk-bentuk tabuh tradisional dan wanda anyar banyak memberikan dukunganyang menyeluruh. Pengertian menyeluruh di sini ialah bahwa fungsi karawitan itu bukan saja sebagai pendukung untuk tarian itu sendiri, melainkan sewaktu-waktu berdiri sendiri sebagai ungkapan tari itu sendiri. Hal ini terutama untuk mempertahankan suasana dalam jalan cerita. Mengingat bahwa kebutuhan di atas sifatnya tetap dan merupakan penuangan dari bahasa gerak yang penuh kedalaman, maka dukungan karawitan harus benar-benar dapat mengimbangi. Pengolahan yang berangkat dari pola-pola wanda anyar sangat banyak membantu.

Adapun gending wanda anyar yang sangat kuat menonjol dalam sendratari tersebut antara lain:

(1) Jembatan-jembatan antar adegan yang berbeda suasananya;

(2) Mengangkat gending-gending tradisional dengan gubahan/arransemen wanda anyar

(3) Penggunaan gamelan yang berbeda-beda laras dan dijalin dalam suatu komposisi dalam perpindahan.

(4) Dialog-dialog waditra dalam memberikan aksen pada gerak-gerak tari.

(5) Penonjolan sekar, rebab, suling dan waditra lain untuk mengisi gerak dan suasana.

Salah satu perkembangan yang sangat menggembirakan adalah adanya garapan tari Arjuna Wiwaha dalam tiga versi (Sunda, Jawa dan Bali) pada tahun 1976. jalan cerita dijalin dalam empat babak. Babak pertama versi Sunda, babak kedua versi Bali dan babak ketiga versi Jawa. Pada babak keempat kolaborasi ketiga versi tersebut, bergabung dalam suatu adegan bersama. Dalam babak keempat ini terasa sekali bahwa iringan gending untuk tari itu sangat membantu dalam mendukung gaya-gaya daerah yang bersangkutan. Ternyata pengolahan gending wanda anyar terasa sangat banyak membantu untuk menyatukan sebuah paduan antara Sunda _ Jawa – Bali dalam menjalin suatu komposisi gending pengiring.

Teknis yang digunakan dalam perpaduan ini ialah:

þ Mencari nada-nada yang tumbuk diantara gamelan yang digunakan (Sunda – Jawa – Bali)

þ Menentukan bentuk tabuh atau alat yang khas daerah masing-masing

þ Mengolah dialog-dialog antar versi dalam iringan untuk mengaksen gerak-gerak tari

þ Memadukan tiga versi dalam satu komposisi gending

Dengan jalan itu ternyata dapat dilaksanakan dengan baik, yaitu dengan cara mengolah sekar gending wanda anyar dalam menuju kepaduannya. Ternyata dengan gending wanda anyar sebuah komposisi gending dapat mengiringi versi lain, tanpa menghilangkan identitas daerah masing-masing. Semakin terasalah bahwa perkembangan dalam karya tari menempatkan gending wanda anyar untuk karawitan pengiring.

3.3. Tata Penyajian Sekar Gending pada Bajidoran/Jaipongan

Bajidoran adalah suatu bentuk tari yang diadaptasi dari tari pergaulan Ketuk Tilu dan gerak tariannya mendapat olahan kembali. Tari Bajidoran berasal dari daerah pantai utara Jawa Barat yang meluas sampai ke daerah lain di Jawa Barat, sehingga melahirkan nama tarian yang lain yang disebut Tari Jaipongan, di mana gerakannya lebih lincah dan dinamis daripada tari ketuk tilu.

(a) Instrumen yang digunakan

Kiranya instrument/waditra bagi iringan bajidoran ini pada awlanya tidak banyak cukup dengan Kendang, Rebab, Ketuk/Bonang yang terdiri dari tiga nada, kecrek dan gong. Namun selanjutnya seperti yang dapat dilihat pada iringan bajidoran sekarang ini, gamelan yang sedikit lengkap mulai digunakan pada dasarnya instrument pokok tetap harus ada.

(b) Nama-nama gending

Adapun lagu-lagu (sekar gending) yang dibawakan dalam mengiringi tari Bajidoran antara lain: Erang, Peuyeum Gaplek, Sireum Beureum, Polostomo, Kacang Asin, Kangsreng dan lain-lain

Irama dan gerak pada Bajidoran dan Jaipongan telah mempengaruhi lagu-lagu Sekar Ageng seperti lagu Kulu-Kulu Bem yang tadinya lagu tersebut bukan berwatak dan bersifat gembira berubah menjadi riang-lincah-dinamis karena pukulan kendang yang mengiringi tarian.

3.4. Tata Penyajian Sekar Gending pada Tembang Sunda

Kiranya karawitan Tembang Sunda/Cianjuran lebih klasik dan tradisional karena seni suara ini berasal dari lingkungan yang sangat patuh pada pakem tembang Cianjuran, meskipun penggarapnya bukan hanya berasal dari lingkungan kabupaten. Sehingga lagu-lagunya masih dapat dikatakan tidak banyak mengalami perubahan yang sangat berarti.

Pada tahun 1954 karawitan Tembang Sunda dipengaruhi lagu-lagu pengingkaran dari tujuan garapannya. Namun berkat kekuatan tradisionalnya, maka tembang Sunda dapat mempertahankan nilai-nilai dan wibawanya.

Walaupun timbul beberapa versi, seperti versi Sumedangan, Ciawian, Bandungan, tetap agak sulit diingkari sumber Tembang Sunda yang semula ada adalah Tembang Sunda Cianjuran.

(a) Instrumen yang digunakan

Instrumen/waditra yang digunakan untuk Tembang Sunda ini adalah Kacapi Parahu (yang besar disebut kacapi indung dan yang kecil disebut kacapi rincik), waditra suling. Kadang-kadang digunakan waditra rebab bila Sekar membawakan lagu berlaras Salendro.

(b) Nama-nama Sekar Gendingnya

Sekar gending dalam Tembang Sunda cianjuran dapat dikelompokan menjadi:

þ Dedegungan, misalnya lagu Sinom Degung, Rumangsang, dan lain-lain

þ Papantunan, misalnya lagu Mupu kembang, raja Mantri, Kaleon dan sebagainya

þ Rarancagan, misalnya lagu Bayubud, satria, Setra dan lain sebagainya

þ Jejemplangan, misalnya lagu jemplang titi, jemplang ceurik, Jemplang Panganten dan lain-lain.

3.5. Tata Penyajian Sekar Gending pada Gending Karesmen

Gending Karesmen yang hamper mirip dengan “Opera” adalah sebuah pementasan teater dengan nyanyian atau dinyanyikan sewaktu melaksanakan dialog, lebih menggunakan kebebasan karawitan, tergantung kepada penyusunnya, yang disesuaikan dengan isi ceritanya, bahkan dicampur dengan jenis-jenis karawitan pun dapat pula asal tetap berpangkal kepada jiwa dan watak si pelaku dan sifat-sifat yang terkandung dalam dialog.

Karena watak, jiwa dan sifat dalam pergelaran Gending Karesmen ini bermacam-macam, maka digunakan karawitan gamelan, karawitan Cianjuran, karawitan degung atau karawitan jenis lainnya agar percakapan pelaku dan ilustrasi keadaan dapat terpenuhi. Larasnya pun bebas untuk dipakai, apakah akan memaki laras salendro, plog, degung atau madenda, yang penting; lagu-lagunya sesuai dengan jiwa pelaku dan isi dialog, laras-laras itu dikuasai pelaku dan tujuan akhir dari pergelaran terpenuhi sesuai kaidah-kaidah teater.

Adapun sumber cerita yang dibawakan pada gending karesmen umumnya dipetik dari ceritra Babad Pajajaran, namun ada pula cerita yang diambil dari lakon-lakon dewasa ini yang pada umumnya disebut drama swara dengan lagu-lagu yang dipergunakan bentuk lagu wanda anyar (kreasi baru), bahkan tidak jarang yang mempergunakan lagu-lagu pupuh.

Demi kepentingan penjiwaan dan gambaran watak isi cerita dan pelaku, dalam gending karesmen memakai jenis-jenis karawitan yang dianggap dapat mendukung pagelaran itu.

Beralih laras dalam gending karesmen bukan hal yang tidak mungkin begitu pula beralih irama sudah biasa dilakukan serta dapat pula beralih perangkat sesuai dengan kebutuhan dari sekar dan alur cerita serta perglarannya.

Fungsi gending dalam gending karesmen antara lain:

(a) Mengingi sekar

(b) Memberikan suasana

(c) Mengaksen gerak-gerak pelaku

Nama-nama Gending karesmen dan Penyusun/penciptanya

Beberapa gending karesmen yang pernah dipergelarkan dari karya-karya seniman, baik sastrawan, komponis maupun koreografer, antara lain:

(1). Sarkam Sarkim : Raden Machyar Angga Kusumadinata

(2). Iblis Minda Wahyu : Raden Machyar Angga kusumadinata

(3). Si Kabayan : Wahyu Wibisana – Koko Koswara (Mang Koko)

(4). Si Kabayan jeung Raja Jimbul : Wahyu Wibisana – Koko Koswara (Mang Koko)

(5). Aki Nini Balangantrang : Wahyu wibisana – Koko Koswara (Mang Koko)

(6). Pangeran Jayakarta : R.A.F – Koko Koswara (Mang Koko)

(7). Nyai Dasimah : Epe Syafei Adisastra – Koko Koswara (Mang Koko)

(8). Sri Baduga Maharaja : R.A.F.

(9). Bangbang Ekalaya : R.A.F.

(10). Mundinglaya Saba Langit : Wahyu Wibisana

(11). Inten Dewata : Wahyu Wibisana

(12). Galunggung Ngadeg Tumenggung : Wahyu Wibisana

(13). Nyi Rambut Kasih : Wahyu Wibisana

(14). Satu Syawal di alam Kubur : RAF – Nano. S

(15). Perang : RAF – Nano. S

(16). Sangkuriang : RAF – Nano. S

(17). Raja Kecit : Wahyu Wibisana – Nano – S

(18). Si Leungli : Nano. S

(19). Ruhak Pajajaran : RAF – Mang Koko